Selasa, 07 April 2009

PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA

Pembahasan ini berisi tentang pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran bahasa. Pendekatan-pendekatan tersebut adalah pendekatan komunikatif, pendekatan kontekstual, dan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).

1. PENDEKATAN KOMUNIKATIF
A. HAKIKAT PENDEKATAN KOMUNIKATIF
Pendekatan komunikatif adalah suatu pendekatan yng bertujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembeljran bahasa, juga mengembangkan prosedur-prosedur bagi pembeljaran 4 keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis), mengakui dan menghargai saling ketergantungan bahasa. Bahasan tentang konsep ini akan merinci tentang (1) Latar Belakang Singkat Munculnya Pendekatan Komunikatif, (2) Ciri-ciri Utama Pendekatan Komunikatif, (3) Aspek-aspek yang Berkaitan Erat dengan Pendekatan Komunikatif, dan (4) Penerapan Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia.

1. LATAR BELAKANG
Menurut Tarigan (1989: 270), munculnya pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa bermula dari adanya perubahan-perubahan dalam tradisi pembelajaran bahasa di Inggris pada tahun 1960-an menggunakan pendekatan situasional. Dalam pembelajaran bahasa secara situasional, bahasa diajarkan dengan cara mempraktikkan/melatihkan struktur-struktur dasar dalam berbagai kegiatan berdasarkan situasi yang bermakna. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, seperti halnya teori linguistik yang mendasari audiolingualisme, ditolak di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1960-an dan para pakar linguistik terapan Inggris pun mulai mempermasalahkan asumsi-asumsi yang mendasari pengajaran bahasa situasional. Menurut mereka, tidak ada harapan/masa depan untuk meneruskan mengajar gagasan yang tidak masuk akal terhadap peramalan bahasa berdasarkan peristiwa-peristiwa situasional. Apa yang dibutuhkan adalah suatu studi yang lebih cermat mengenai bahasa itu sendiri dan kembali kepada konsep tradisional bahwa ucapan-ucapan mengandung makna dalam dirinya dan mengekspresikan makna serta maksud-maksud pembicara dan penulis yang menciptakannya (Howatt, 1984: 280, dalam Tarigan, 1989:270).

2. CIRI-CIRI UTAMA PENDEKATAN KOMUNIKATIF
Ciri utamanya adalah adanya 2 kegiatan yang saling berkaitan erat, yakni adanya kegiatan-kegiatan komunikatif fungsional (functional communication activies) dan kegiatan-kegiatan yang sifatnya interaksi sosial (social interaction activies). Kegiatan komunikatif fungsional terdiri atas 4 hal, yakni mengolah infomasi, berbagi dan mengolah informasi, berbagi informasi dengan kerja sama terbatas, dan berbagi informasi dengan kerja sama tak terbatas, sedangkan kegiatan interaksi sosial terdiri atas 6 hal, yakni improvisasi, lakon-lakon pendek yang lucu, aneka simulasi, dialog, dan bermain peran, sidang-sidang konversasi dan diskusi, serta berdebat.

3. ASPEK-ASPEK YANG BERKAITAN ERAT DENGAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF
Ada 8 aspek yang berkaitan erat dengan pendekatan komunikatif (David Nunan, 1989, dalam Solchan T.W., dkk. 2001:6.6):
No. Aspek yang Berkaitan Kebermaknaan dalam Pendekatan Komunikatif
1. Teori Bahasa Pendekatan komunikatif berdasarkan teori bahasa menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa adalah suatu sistem untuk mengekspresikan makna, yang menekankan pada dimensi semantic dan komunikatif daripada ciri-ciri gramatikal bahasa. Oleh karena itu, yang perlu ditonjolkan adalah interaksi dan komunikasi bahasa, bukan pengetahuan tentang bahasa.
2. Teori Belajar Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini adalah teori pemerolehan bahasa kedua secara alamiah.
3. Tujuan Mengembangkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi (kompetensi dan performansi komunikatif).
4. Silabus Silabus harus disusun searah dengan tujuan pembelajaran dan tujuan yang dirumuskan dan materi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan siswa.
5. Tipe Kegiatan Tukar menukar informasi, negosiasi makna atau kegiatan lain yang bersifat riil.
6. Peranan Guru Fasilitator proses komunikasi, partisipan tugas dan tes, penganalisis kebutuhan, konselor, dan manajer proses belajar.
7. Peranan Siswa Pemberi dan penerima, negosiator, dan interakor sehingga siswa tidak hanya menguasai bentuk bahasa, tapi juga bentuk dan maknanya.
8. Peranan Materi Pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi nyata.



4. PENERAPAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA
Adapun dalam penerapan pendekatan komunikatif ini, ada dua hal yang harus diperhatikan, yakni tujuan pembelajaran dan Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP).

B. PROSEDUR PENGGUNAAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF
Dalam Kamus Besar Bahas Indonesia (KBBI, 2001:742), dijelaskan bahwa prosedur merupakan thap-tahap kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktivitas. Finocchiaro dan Brumfit (dalam Tarigan, 1989: 294) mengemukakan suatu bagan/skema pelajaran bagi fungsi “pembuatan suatu sugesti” bagi para pembelajar pada tingkat permulaan program sekolah menengah, tetapi juga dapat digunakan untuk jenjang pendidikan dasar, bahwa prosedur-prosedur pembelajaran berdasarkan pendekatan komunikatif lebih bersifat evolusioner daripada revolusioner. Adapun garis kegiatan pembelajaran yang ditawarkan mereka adalah; penyajian dilog singkat, pelatihan lisan dialog yang disajikan, penyajian tanya jawab, penelaah dan pengkajian, penarikan simpulan, aktivitas interpretatif, aktivitas produksi lisan, pemberian tugas, pelaksanaan evaluasi.

2. PENDEKATAN KONTEKSTUAL
Dalam mengajarkan bahasa Indonesia dapat dijadikan titik pijak untuk membincangkan kehidupan terkait dengan bagaimana bahasa telah menjadikan seseorang mencapai sukses dan terkenal di dunia internasional atau nasional. Ada kemungkinan dengan menghadirkan kehidupan para tokoh proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dalam konteks bahasa dapat lebih kaya dan hidup.
Kebermaknaan dapat hadir dalam sebuah pembelajaran apabila di sebuah kelas dapat dihadirkan sebuah kehidupan, seseorang dengan kesuksesannya dalam menerapkan ilmu.

STRATEGI PENGAJARAN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
Strategi pengajaran dengan menggunakan pendekatan ini mengajak guru dan siswa mengaitkan mata pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa. langkah-langkah praktis dalam menggunakan pengajaran berdasarkan pendekatan kontekstual, yaitu:
- Kaitkan setiap mata pelajaran;
- Kisahkan tentang riwayat sang tokoh atau cara-cara sukses;
- Rumuskan dan tunjukkan manfaat yang jelas dan spesifik;
- Upayakan ilmu-ilmu yang dipelajari dapat memotivasi siswa;
- Kebebasan siswa untuk mengkonstruksi ilmu yang diterimanya;
- Galilah kekayaan emosi;
- Membimbing dalam mengunakan emosi.



3. PENDEKATAN CBSA
A. PENGERTIAN
Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) merupakan suatu proses belajar mengajar yang aktif dan dinamis. Dalam proses ini peserta didik terutama mengalami keeterlibatan intelektual-emosional di samping keterlibatan fisiknya. Jika dipandang dari peserta didik, CBSA adalah proses kegiatan yang dilakukan dalam rangka belajar. Sedangkan dari segi guru atau fasilotator, CBSA merupakan suatu strategi belajar yang direncanakan sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar yang dilaksanakan menuntut aktivitas dari peserta didik secara aktif.
Proses belajar mengajar yang lebih menekankan kepada kegiatan peserta didik, seperti dianut dalam CBSA dikenal dengan nama “pengajaran yang berpusat pad peserta didik atau student centered instruction”.

B. HAKIKAT CBSA
Hakikat CBSA adalah proses keterlibatan “intelektual emosional” peserta didik dalam proses belajar mengajar yang memungkinkn terjadinya:
1. Proses asimilasi dan akomodasi dalam pencapaian pengetahuan.
2. Proses perbuatan serta pengalaman langsung terhdp umpan balik dalam pembentukkan keterampilan.
3. Proses penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam rangka pembentukan nilai dan sikap.

C. PRINSIP-PRINSIP CBSA
Prinsip CBSA dibagi ke dalm 4 dimensi, yaitu:
1) Yang terlihat pada peserta didik (siswa):
a. Keberanian menyatakan pendapat, pikiran, perasaan, keinginan, dan dorongan lainnya,
b. Keinginan dan keberanian berpartisipasi,
c. Adanya usaha dan kreativitas,
d. Dorongan ingin tahu,
e. Rasa lapang dan bebas dalam melakukan sesuatu.
2) Yang terlihat pada dimensi guru:
a. Usaha membina dan mendorong peserta didik dalam meningkatkan kegairahan dan partisipasi siswa aktif,
b. Kemampuan menjalankan fungsi dan peranan guru sebagai inovator dan motivator,
c. Sikap yang tidak mendominasi kegiatan belajar mengajar siswa dalam keseluruhan proses belajar mengajar,
d. Pemberian kesempatan kepada peserta didik yang pada hakikatnya memiliki perbedaan individual,
e. Kemampuan menggunakan bermacam strategi belajar mengajar serta pendekatan multimedia.
3) Yang terlihat pada dimensi program;
a. Tujuan pelajaran serta konsep maupun isi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan peserta didik,
b. Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep maupun aktivitas peserta didik,
c. Program yang tidak kaku dalam penentuan metode dan media di mana peserta didik memahaminya.
4) Yang terlihat pada dimensi situasi belajar mengajar:
a. Situasi belajar mengajar di mana terjelma komunikasi antara guru dan siswa yang intim dan hangat,
b. Adanya kegairahan dan kegembiraan belajar dari peserta didik.

Tidak ada komentar: